Motivasi Menulis

Oleh: Jonru (Pemilik http://www.penulislepas.com)

“No one can guarantee your success, except yourself.” (Anonim)

Anda mungkin punya bakat menulis yang luar biasa. Anda juga punya cita-cita

untuk menjadi seorang penulis ternama seperti John Grisham, Stephen King, Helvy Tiana

Rosa atau Seno Gumira Ajidarma. Itu adalah keinginan yang sangat baik. Tapi tanpa adanya motivasi, Anda hanya seperti sebuah mobil tanpa bensin. Sebagus apapun mesin dan bodinya, ia tak akan bisa melaju di tengah jalan raya yang ramai.

Memang, motivasi merupakan bensin di dalam aktivitas apapun. Motivasi adalah provokator sejati, yang menyebabkan seseorang mau melakukan apa saja untuk meraih impiannya, dan tak mau ambil pusing dengan kendala sebesar apapun. Motivasi yang sangat kuat cenderung mempermudah jalan seseorang menuju pintu sukses.

Di dunia ini, kita bisa menemukan begitu banyak penulis yang sangat berbakat, mungkin jauh lebih berbakat dari Kahlil Gibran. Tapi masalah utama mereka adalah pada motivasi. Hasilnya, mereka gugur di perjalanan hanya gara-gara redaktur sebuah media menolak satu naskah mereka. Atau, seperti teman saya berisial S, yang selalu menggunakan alasan kesibukan mengurus kuliah. Tragisnya, dia suka bernostalgia seperti ini, “Saya sudah malas menulis, padahal dulu saya sering menulis naskah drama untuk TVRI di daerah saya, lho.”

Memang, merupakan hak asasi si S untuk memilih tidak terjun ke dunia penulisan. Tapi ia menyia-nyiakan sebuah kesempatan yang sangat sangat sangat berharga. Kalau ia mau, yang dibutuhkannya hanya sebuah motivasi yang terus ia gosok hingga mengkilat dan selalu panas membara.

Memang lagi, begitu banyak kendala yang menghadang begitu seseorang memutuskan untuk mewujudkan sebuah ambisi. Tapi jika motivasi sudah melekat kuat di dada, kendala sebesar apapun tak akan ada artinya. Dan saya percaya, kendala terbesar justru datang dari diri kita sendiri. Karena itu, kita sendirilah yang paling tepat untuk mengatasinya.

Ada begitu banyak kendala yang mungkin menghalang perjalanan seorang penulis menuju pintu sukses. Karena tulisan ini mengenai motivasi, saya hanya akan menyebutkan kendala-kendala yang berhubungan dengan si provokator tersebut.

Kendala-kendala ini tak ubahnya penyakit yang amat mematikan. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri darinya adalah mengobatinya. Maka, di bawah ini saya akan memaparkan penyakit-penyakit tersebut, yakni yang berasal dari diri kita sendiri (populer dengan istilah kendala internal), disertai semacam kiat untuk mengobatinya.

 

Penyakit internal bagi penulis pemula

Ada lima penyakit internal yang paling sering menjangkiti penulis pemula, yakni:

1. Takut ditolak

Dengan kata lain, takut gagal.

“Bagaimana kalau naskah saya ditolak oleh harian Kompas? Saya tak mau

kecewa. Saya ingin naskah saya dimuat secepat mungkin. Pokoknya jangan sampai

ditolak, deh!”

Jika Anda berpikir seperti itu, maka sebaiknya Anda tak pernah lagi bermimpi apapun. Sudah menjadi kodrat alam bahwa segala jenis perjuangan manusia pasti punya

dua resiko yang nyata: berhasil atau gagal. Dan kita harus siap menghadapi keduanya. Tragisnya, begitu banyak orang yang siap untuk berhasil, tapi hanya sedikit yang siap untuk gagal.

Jika ada waktu, cobalah menghubungi Jazimah Al Muhyi, penulis fiksi dari Yogyakarta yang sejumlah bukunya sudah beredar di pasaran. Sebelum naskah pertamanya dimuat di Majalah Annida, sudah 36 cerpennya ditolak. Tapi ia tak pernah menyerah.

Saya pun memiliki pengalaman yang hampir sama. “Sasaran tembak utama” saya ketika merintis karir di bidang penulisan adalah majalah (alm) Anita Cemerlang. Banyak naskah kiriman saya yang tak jelas rimbanya. Dimuat tidak, tapi juga tak ada kabar mengenai penolakan. Selain itu, cerpen saya yang ditolak oleh Anita pun sudah puluhan naskah. Saya pernah mengatakan 50 cerpen, tapi mungkin lebih sedikit dari itu (saya sudah lupa). Mungkin sama jumlahnya dengan cerpen Jazimah yang ditolak oleh Annida.

Yang jelas, jumlahnya sangat banyak.

Sebelum menemukan listrik, Thomas Alva Edison telah bereksperimen sebanyak 999 kali, dan semuanya gagal. Jika pada percobaan ke-1000 ia mundur, maka kemungkinan besar hari ini kita tak akan bisa menonton siaran TV atau menyimpan makanan di kulkas. Hidup kita akan menjadi gelap gulita di malam hari, sepi karena tak ada televisi.

Tak ada penulis yang tiba-tiba menjadi terkenal. Pasti ada proses di balik setiap keberhasilan. Peribahasa klise mengatakan, “Kegagalan adalah sukses yang tertunda.” Mungkin Anda sudah bosan mendengarnya. Tapi percayalah, itu adalah obat yang sangat ampuh untuk mengatasi ketakutan Anda.

Oh ya, satu hal lagi. Naskah yang ditolak belum tentu karena karena kualitasnya jelek. Bisa saja, naskah yang ditolak di media A, ternyata dimuat di media B. Mungkin naskah Anda tidak cocok di media C, tapi sangat cocok di media D. Ada begitu banyak alasan penolakan naskah, dan “kualitas yang payah” hanyalah satu di antaranya.

Insya Allah, beberapa waktu lagi saya akan mengirim materi tentang kiat sukses

pengiriman naskah ke media massa. Di sana Anda dapat membaca mengenai hal ini

secara lebih jelas.

2. Minder

“Saya ingin sekali jadi penulis, dan sudah ada beberapa nasah yang saya hasilkan. Tapi saya tak berani mengirimnya ke media massa, karena saya merasa karya saya itu semuanya jelek.”

Terus terang, saya sudah bosan mendengar ucapan seperti di atas. Di acara pelatihan penulisan, di milis-milis, atau di tempat-tempat lain, sudah terlalu sering saya mendengar orang-orang bicara seperti itu. Saya sampai tiba pada kesimpulan, bahwa minder adalah penyakit yang paling banyak menyerang para penulis pemula.

Asma Nadia pernah melontarkan sebuah kalimat yang amat menggelitik, “Tak pernah ada ceritanya, seorang penulis mati terbunuh hanya gara-gara kualitas naskahnya jelek.”

Ya, Asma benar. Mungkin Anda akan dicela orang jika naskah Anda sangat buruk.

Mungkin Anda disarankan untuk mencari aktivitas lain, tak ada gunanya jadi penulis.

Kenyataan seperti ini memang menyakitkan. Tapi percayalah! Naskah yang buruk itu tak akan pernah mencabut nyawa Anda.

“Saya merasa naskah saya jelek.”

Ya, SAYA MERASA.

Jadi, itu sebenarnya hanya perasaan Anda. Tapi apakah naskah Anda benar-benar jelek atau justru sangat bagus?

Apakah Anda mau membuktikannya?

Anda bisa menjawab:

1.YA, saya mau, atau:

2.TIDAK!

Semua terserah Anda.

Nah, sekarang jelas bukan? Bila memilih YA, Anda punya banyak kemungkinan.

Ada kemungkian yang baik, ada pula kemungkinan yang buruk. Namun bila Anda

memilih TIDAK, maka kemungkinannya hanya satu: KEBURUKAN.

Jadi, sekarang pilihan berada di tangan Anda. Apakah Anda ingin memelihara rasa minder itu, atau membuangnya dan menyongsong sebuah kesuksesan?

Katakan saja, SAYA INGIN SUKSES.

Dan buanglah rasa minder itu jauh-jauh.

Coba tunjukkan naskah Anda pada teman-teman Anda, atau seorang penulis yang sudah berpengalaman (di zaman internet ini, Anda bisa dengan mudah mengirim naskah Anda pada seorang penulis yang belum anda kenal secara pribadi, dan tinggalnya ribuan kilometer dari tempat tinggal Anda). Lalu tunggulah reaksi mereka.

Jika mereka mengatakan naskah Anda jelek, berarti Anda pemenangnya.

Perasaan Anda tidak salah. Tapi jika Anda jadi kecewa lalu bunuh diri karena hal itu, kini giliran saya yang akan kecewa.

Jika naskah Anda memang benar-benar jelek, justru itu menjadi materi belajar yang sangat bagus. Setiap orang bisa belajar dari kesalahan. Anda bisa bertanya pada teman Anda, atau pada si penulis terkenal, “Di mana letak kejelekan naskah saya?

Bagian mana yang harus saya perbaiki?” Jika mereka memberikan penjelasan yang memadai, maka Anda telah menjalani sebuah proses belajar yang sangat luar biasa. Dan dari hal-hal seperti inilah Anda punya kesempatan untuk meningkatkan kualitas karya-karya Anda.

Lantas jika mereka mengatakan naskah Anda bagus, maka perasaan Anda yang kalah. Tapi sebagai seorang penulis, Anda adalah sang pemenang. Jika karya Anda dipuji, disebut sebagai sebuah naskah yang sangat luar biasa, maka itu adalah modal yang sangat bagus untuk mengikis rasa minder Anda. Pujian akan membuat kita bangga (walau dalam taraf tertentu itu kurang baik juga), menimbulkan rasa percaya diri, dan secara perlahan rasa minder akan hilang. Pujian adalah obat yang sangat mujarab untuk mengatasi rasa minder. Yang penting, jangan sampai terlena oleh pujian.

Sebab terlena oleh pujian merupakan penyakit tersendiri pula.

Jadi, sebenarnya tak ada alasan untuk minder, bukan? Naskah Anda jelek atau bagus, ternyata hasil pengujiannya bisa menghasilkan obat yang sangat mujarab untuk mengatasi penyakit kronis yang bernama minder itu.

Ayo, sudahlah! Jangan katakan lagi “Saya minder dan tulisan saya sangat jelek”.

Sepuluh tahun lagi, Anda mungkin bisa mengalahkan Agatha Christie dan Stephen King.

Apa lagi yang Anda tunggu?

3. Membesar-besarkan masalah

“Saya ingin sekali menjadi penulis, tapi:

-Rumah saya sangat bising; banyak penghuninya dan terletak di tengah pasar Tanah Abang. Tiap hari sangat gaduh. Tak ada tempat yang tenang untuk menulis.

-Saya tak punya komputer.

-Saya sakit-sakitan.

-Saya adalah pekerja kantoran yang serba sibuk. Pergi pagi pulang petang. Setiba di

rumah, sudah malam dan saya mengantuk. Lagipula saya harus mengurus tiga anak

yang semuanya masih kecil.

Duh, betapa banyaknya masalah yang membebani Anda. Ya, Anda memang punya alasan untuk mundur dari dunia penulisan. Tapi apakah semua itu adalah alasan yang kuat? Mari kita lihat fakta berikut ini:

-Gola Gong adalah seorang penulis yang bertangan satu.

-Ketika saya merintis karir di bidang penulisan, saya tak punya mesin tik dan belum kenal komputer. Saya menulis dengan tangan, lalu mengetikkan naskah saya di biro jasa pengetikan.

-Fahri Asiza adalah penulis produktif yang sehari-hari berperan sebagai seorang pengusaha dan suami yang sangat sibuk. Tapi ia bisa menulis puluhan novel.

Ia menyempatkan diri menulis sekitar jam 5 hingga 5.30 pagi, setiap hari. Dengan cara ini, ia dapat menyelesaikan puluhan novel

-Para anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Hong Kong adalah manusia-manusia yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Ya, mereka tak ubahnya seperti Si Inem atau Si Ijah yang setiap hari menyiapkan sarapan dan mengepel lantai di rumah Anda. Tapi mereka sudah berhasil menerbitkan buku kumpulan cerpen. Bahkan ada di antara mereka yang telah menerbitkan buku sendiri.

Ayolah, Sobat! Di awal tulisan ini saya sudah menyebutkan, “Kendala sebesar apapun tak akan ada artinya jika di dada kita telah tertanam motivasi yang sangat kuat.”

Memang, yang di atas itu adalah kendala-kendala bagi kita semua. Jangan dikira hanya Anda yang mengalaminya. John Grisham dan Putu Wijaya pun mengalami hal yang sama, kok.

Jadi, masih adakah alasan bagi Anda untuk mempermasalahkan masalah-masalah tersebut? Hadirkanlah motivasi di hati Anda, maka semua masalah di atas tak akan ada artinya sama sekali. Ada demikian banyak trik dan kiat yang bisa Anda terapkan untuk mengatasinya. Bagaimana? How? Sudahlah. Saya tak akan mengajari Anda. Jika tekad Anda sudah membaja, saya yakin Anda akan dengan sangat mudah menemukan seribu trik untuk menyiasati masalah sebesar apapun.

4. Dikritik lalu mati

Saya punya beberapa teman yang sangat antusias untuk jadi penulis. Ketika membaca naskah mereka, saya akui kualitasnya belum bagus. Lalu saya mengkritik karya-karya itu atas permintaan mereka. Mereka pun merevisinya, lalu meminta saya kembali mengkritik. Saya belum melihat kemajuan yang berarti, lalu kembali saya katakan bahwa ini masih perlu diperbaiki. Kini, teman saya itu hilang entah ke mana, sepertinya mereka tak pernah menulis naskah lagi.

Jika Anda sama seperti teman saya tersebut, ijinkan saya mengungkapkan sebuah rahasia: Jika si pengkritik itu tidak mencintai Anda, maka ia akan cuek saja pada naskah Anda. Mau jelek kek, hancur kek, emangnye gue pikirin?

Tapi lihatlah apa yang dia lakukan? Ia begitu semangat untuk membaca naskah Anda. Ia begitu antusias untuk menemukan kelemahan-kelemahan di dalamnya, lalu dibedahnya, dianalisisnya, kemudian Anda diberitahunya tentang cara menulis yang jauh lebih baik.

Kenapa ia mau melakukan pekerjaan yang amat merepotkan seperti itu? Apa yang dia cari sesungguhnya? Uang? Atau dia sedang cari muka pada Anda. Maka inilah rahasia itu: Sebenarnya si pengkritik itu sangat cinta pada Anda. Dia menaruh perhatian yang sangat besar terhadap bakat dan semangat menulis Anda. Ia ingin agar Anda tumbuh menjadi seorang penulis yang sukses.

Pertanyaannya sekarang: Apakah Anda tega mengecewakan orang yang mencintai Anda? Kenapa Anda tidak bersemangat padahal dia jauh lebih bersemangat dan antusias untuk menyaksikan kesuksesan Anda?

Ayolah, bangun dan gosok terus motivasi tersebut. Jika ia sudah panas membara, seperti api olimpiade, percayalah! Walau saya mengatakan naskah Anda sangat jelek, memuakkan, bahkan saya mengatakan Anda sangat tidak tahu diri karena masih nekat menjadi penulis, saya yakin bahwa Anda tak akan peduli sama sekali.

Okay?

5. Tidak Sabaran

Impian setiap penulis, termasuk saya, adalah:

Hari ini menulis novel, besok sudah diterbitkan, lusa dipuji di mana-mana, dan di hari ketiga nama saya sudah terpampang di halaman Budaya dari sepuluh surat kabar terkenal. Judul beritanya, “Telah lahir, Jonru, seorang sastrawan kaliber internasional!”

Sobat, marilah kita bersikap realistis. Tak ada kesuksesan yag diraih dalam satu atau dua hari. Bahkan para jawara Indonesian Idol, AFI, KDI dan sebagainya, yang disering dicap sebagai orang-orang yang populer secara instan, pun sebenarnya melalui proses yang sangat panjang. Kita mengenal Mike, Siti atau Delon hanya setelah mereka tampil di layar kaca. Sebelum itu, apakah Anda mengenal mereka? Apakah Anda tahu kegiatan sehari-hari mereka?

Saya yakin, sebelum ikut audisi AFI atau KDI, mereka telah melalui proses yang panjang. Mungkin jadi penyanyi bar, ikut vocal group, mengirim demo lagu ke industri musik tapi selalu ditolak. Mereka telah melewati demikian banyak anak tangga, dan AFI atau KDI atau Indonesian Idol hanyalah tangga berikutnya yang letaknya sudah dekat dengan pintu sukses.

Semua kesuksesan pasti perlu proses. Jika hari ini semua naskah Anda masih ditolak oleh semua media, bahkan Anda sempat berpikir bahwa Anda dicekal di mana-mana, percayalah bahwa ini haya masalah waktu. Anda sebenarnya sama seperti calon pendekar yang masih bertapa di dalam gua. Anda kelaparan, sendirian, digigit nyamuk, menggigil kedinginan, dan berbagai kesulitan lain menerpa.

Tapi percayalah. Suatu saat nanti, anda akan hadir di jagat persilatan sebagai pendekar yang bisa terbang dan membasmi seribu musuh hanya dalam satu gerakan tangan. Anda akan menjadi pendekar yang sangat sakti

Jadi, kenapa harus tidak sabaran? Semua itu perlu proses dan perjalanan panjang, bukan?

6. Malas Berusaha

Ini adalah penyakit yang bisa melanda siapa saja di bidang apa saja. Jadi, ini bukan penyakit khas para calon penulis.

Dialog berikut ini tidak nyata, tapi saya pernah menghadapi seorang calon penulis yang mentalnya lebih kurang sama.

“Kenapa naskah novel kamu itu belum dikirim juga?”

“Aku belum tahu alamat penerbitnya.”

“Ya dicari, dong. Emang apa namanya?”

“Penerbit Anu.”

“Wah, itu masih di dalam kota. Alamatnya di jalan X nomor 10, dekat rumah sakit

umum. Antar langsung saja naskah kamu ke sana.”

“Malas, ah. Kalau ke sana kan, perlu naik angkot tiga kali. Repot.”

“Kalau begitu, kirim lewat pos saja.”

“Kantor pos juga jauh.”

“Kirim lewat email.”

“Kamu ini gimana, sih? Aku kan gaptek soal internet.”

“Ya, belajar dong.”

“Enggak ada waktu. Lagipula, apa pentingnya sih, belajar internet?”

Teman, kesuksesan tak akan pernah menghampiri seorang pemalas. Kalau mau berhasil, ya harus rajin.

Dan kemalasan bukan hanya menyangkut hal-hal seperti yang tersirat lewat dialog di atas. Ada penulis yang malas menghampiri komputer untuk mengetik naskah. Ia lebih asyik berkutat di depan televisi yang menayangkan sinetron atau komedi situasi.

Atau walaupun sudah di depan komputer, ia malah memencet tombol “games”, bukan “Microsoft Word”. Dan yang lebih tragis, ia membiarkan dirinya tidak menulis selama berhari-hari dengan alasan, “Lagi enggak ada mood.”

Helvy Tiana Rosa pernah berkata, tips jitu untuk menjadi seorang penulis adalah langsung praktek menulis, menulis, dan menulis. Menulislah setiap hari.

Jangan sampai Anda membiarkan satu hari terlewat tanpa adanya aktivitas menulis.

Jadikan menulis sebagai bagian dari gaya hidup Anda.

Kalau bisa, jangan jadikan ia sebagai hobi. Hobi biasanya hanya digeluti ketika kita suka dan ada waktu luang. Begitu tugas utama menanti, hobi pun terbengkalai.

Kalau Anda benar-benar ingin jadi penulis, jadikan menulis sebagai pilihan hidup, bukan hobi. Katakan pada diri Anda, “Saya seorang penulis!” dengan penuh percaya diri!

Tapi jangan salah sangka. “Menulis setiap hari” itu bukan berarti Anda harus tiap hari menulis cerpen atau novel atau artikel atau resensi buku. Oh, tidak. Kalau hari ini Anda hanya menulis satu paragraf yang berisi pengalaman tadi malam di jalan raya menuju rumah, atau pendapat singkat – sekitar tujuh kalimat – mengenai kenaikan harga BBM, itu pun sudah sangat bagus. Sesederhana apapun tulisan yang Anda buat, itu tidak masalah. Yang penting, menulislah setiap hari, karena bagi kita menulis itu sama seperti makan pagi, siang dan malam.

* * *

Oke, semoga tulisan ini bermanfaat. Semoga motivasi dan semangat yang menyala-nyala tetap berkobar di hati Anda.

Sebab itu adalah senjata utama Anda untuk meraih impian menjadi penulis sukses! (*)

Ingin Mendapat Motivasi Menulis Terlengkap,

Plus Kiat Paling Mendasar dalam Menulis?

Dapatkan Buku“Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat”

Edisi Lengkap Buku Ini Bisa Diakses di

http://www.PenulisHebat.com

Iklan

tips menulis dari kang kadir (2)

Bagaimana Memulai…?
Pra Membaca-Menulis
1. Gunakan kata ganti ‘AKU’
2. Gunakan Metode PEMETAAN PIKIRAN SECARA BEBAS dan
3. Gunakan AMBAK (Apa Manfaatnya Buat AKu)
Kata Mas Hernowo
• Sediakan 2 macam wadah: emosi dan pikiran!
• Alirkan apa saja yg mau dibaca-ditulis!
• Kumpulkan bahan tulisan secara perlahan dan sesekali koreksilah!
• Biasakan untuk mengendapkan bacaan dan tulisan!
• Baca dan tulislah, kemudian begitu seterusnya!

Hampir semua penulis hebat itu adalah pembaca hebat !!!

Mari belajar dari hidup mereka!!!

“Jangan ragu, doyan BACA-TULIS bukan bawaan, tapi bermula pada pembiasaan…!”
Sahabat, renungkanlah…!!!
 Pernahkah ANDA bermimpi untuk menulis minimal 1 buku seumur hidup?
 Bagaimana perasaan ANDA jika kelak ANDA berhasil menulis buku yang Anda hadiahkan untuk Ayah-Bunda ANDA?
 Bagaimana jika kelak karya tulis ANDA menginspirasi orang lain untuk selalu melakukan yang terbaik, bermanfaat tuk kebangkitan Islam dan negeri ini, bahkan mempermudah jalan ANDA dan mereka ke surga-Nya?
Apa yang terlintas dalam pikiran Anda ketika:
 Seorang anak berumur 7 tahun, Seorang anak kampung, Seorang anak yang hanya punya 1 tangan, dan Seorang tukang becak MAMPU MENULIS CERPEN, NOVEL atau BUKU?
Sekalian Iklan Yuk!!!
 “KAMPUNGKU, BUKU DAN SURGA : Spirit Menulis Anak Kampung”
 Syamsudin Kadir
 224 Halaman
 Penerbit Mitra Pemuda (Januari 2012)
 Rp 35.000
085 220 910 532

Lalu, bagaimana?

“Mari Membaca dan menulis,
kalau hanya mengeong, kucingpun bisa!”

tips menulis dari syamsudin kadir

Menggores Pena, Mengukir Sejarah
 Syamsudin Kadir
 Direktur-Instruktur Kantin Menulis Penerbit Mitra Pemuda
 Direktur Gerakan 30 Menit baca, tulis dan diskusi (G 30 M)
 Suami dari Mba Uum Heroyati
 Ayah dari Azka Syakira
 085 220 910 532
 pena.publisher@gmail.com
 FB: Syamsudin Kadir, Kang Kadir
 akarsejarah.wordpress.com
 Karya Tulis:
 Merebut Masa Depan
 Awas Bahaya Sepilis!
 Improve Your Competence And Win The Future!
 Kampungku, Buku dan Surga
 Serpihan Cinta Untuk Presiden SBY
OBSESI:
Meninggal setelah menulis buku inspiratif yang menggugah orang untuk bangkit dan segera melangkah, sehingga mempermudah jalan saya dan mereka menuju surga Allah Swt
Mengapa Menulis???
1. Konsep Ilmu
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
Qs. Al-Alaq: 1-5
1. BACALAH dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran KALAM
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya
• Karena Baca-Tulis:
• Tradisi Peradaban Islam/Warisan ulama
• Dapat mengikat, memperdalam dan menambah ilmu pengetahuan
• Wujud kesungguhan dalam menyebarkan kebenaran dan ilmu pengetahuan
• Bagian dari upaya pencerdasan dan pencerahan alias sarana efektif untuk menyebar kebenaran
• Ada tambahan….?
• Dengan Baca-Tulis dapat:
Percayalah, MEMBACA dan MENULIS itu:

– Menyenangkan
– Menjanjikan
– Me: ……………
Tips Cinta Baca-Tulis (1)
• Buatlah rencana dan jadwal sederhana!
• Baca dan Tulislah sesuatu yang disenangi!
• Mulailah dalam keadaan menyenangkan!
• Baca dan Tulislah sedikit demi sedikit tapi berlanjut !
Tips Cinta Baca-Tulis (2)
• Alihkan suasana ketika bosan menggoda!
• Sekali-kali Baca dan Tulislah sesuatu yg belum disukai!
• Sejenak, renungilah isi, pesan dan bahasa bacaan dan tulisan!
• Berdo’a agar apa yang dibaca dan ditulis bermanfaat!
Penting juga nih,,,,
Tujuan MEMBACA dan MENULIS !!!
 Membaca-Menulis SEBAGAI HIBURAN (Reading-Writing as Relaxation)
 Menulis UNTUK MEMPEROLEH ILMU PENGETAHUAN (Reading-Writing fir to get science)
 Membaca dan Menulis kritis: baca, telaah, meneliti, emperisme ide kemudian DITULIS

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.